Pangkep, Faktualsulsel.com- Lomba pacuan kuda tradisional tingkat lokal yang berlangsung tanggal 24 sampai 28 Agustus, berlokasi di gelanggang pacuan kuda Male’leng kelurahan Sibatua, kecamatan Pagkajene, Pangkep.

Merupakan seleksi persiapan untuk ikut porda kegiatan serupa tingkat provinsi Sulawesi Selatan tanggal 4 sampai 8 septeber, di lokasi yang tempat yang sama, yang merupakan bagian dari Karnaval bertajuk Malam 1001 Wajah yang seudah berlangsung sejak 15 Agustus sampai 15 September 20018 yang keseluruhan meliputi kegiatan-kegiatan Pacuan kuda tradisional, Pasar Malam, Sepak Takraw, Hafidz, Khitanan masal dan beberapa kegiatan sosial lainnya.

Terkhusus pacuan kuda tradisional menjadi kegiatan yang banyak diminati warga, ribuan pengunjung memadati pinggiran lintasan pacuan salama lomba berlangsung. Namun disayangkan potensi yang begituenjanjikan serta perlu dilestarikan kurang mendapat respon dan perhatian masyarakat terutama pemerintah dalam hal ini sebagaimana diungkap oleh ketua Panitia Muarrif, SH, kegiatan kami ini berlangsung secara swadaya, yang mengecewakan kami, sudah tidak ada kontribusi dari pihak pemerintah kelurahan malah melarang kami melakukan pungutan kontribusi karcis tanda masuk sukarela penonton di tempat yang paling cocok dan strategis karena kurang dana serta tidak ada karoro(dinding pembatas arena lomba dari alam terbuka, yang merupakan harapan panitia sebagai penopang tambahan dana kegiatan ini.

Sementara Pak Lurah Sibatua Haedir Ali, SE saat kami konfirmasi lewat telfon membantah perihal pernyataan panitia tersebut dengan meluruskan bahwa yang tidak diperkenankan adalah memalang jalan poros sebagai tempat pungutan karcis karena banyak pengguna jalan dengan arah tujuan ketempat yang lain, seharusnya pungutan karcis masuk di lakukan di jalan masuk arena lokasi kegiatan, jadi ini hanya merupakan kesalahpahaman. Seandainya saya menghalangi kegiatan tersebut tidak mungkin berlangsung.

Pihak kami sudah membatu memberi solusi penggunaan beberapa petak sawah dari pemilik yang keberatan, manalagi dukungan tandatangan pada surat-surat urusan administrasi dan lain-lain, dan pengumuman dukungan warga saat shalat Jum’at di masjid, tutupnya.

Sementara pacuan kuda tradisional lokal kali ini yang diikuti oleh peserta dari Soreang Maros, Labakkang, Balocci, Kabba, Sibatua, Minasatene, dan segeri, telah menghasilkan juara. Keluar sebagai juara 1 Cilla Male’leng (tuan rumah), juara 2 Awal Soreang Maros, dan juara 3 Ferdi Minasatene.

Laporan : Hamza Sampo

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *